Thailand Trip Part 3: Hampir Kena Scam di Grand Palace (+ Itinerary & Budget)

Hari ke-4 di Thailand, dan kami siap ke salah satu tujuan utama kami ke Bangkok: temple-hopping! Kalo wisatawan Indonesia kebanyakan semangat ke Bangkok untuk belanja di tempat-tempat seperti Platinum, MBK, atau Pratunam Market, kami malah nggak excited untuk belanja dan malah lebih pengen ke temples. Salah satu tujuan kami adalah Grand Palace dan Wat Arun.

DAY 4

1.BREAKFAST @ ON LOK YUN

Pagi hari kami berangkat dari hostel kami di daerah Ekkamai menuju Grand Palace. Untuk mengisi perut, kami memilih untuk mampir dulu ke salah satu restoran oldies di daerah Old Siam yang terkenal dengan menu sarapannya yaitu On Lok Yun.

Jenis makanan di On Lok Yun ini bukan khas Thailand, aku malah melihatnya lebih khas American dengan sentuhan Chinese. Tapi aku kekeh untuk sarapan disini karena pengen nyobain restoran klasik yang terkenal dengan menu sarapannya ini. Kami kira On Lok Yun akan sepi karena kami datang kesana lumayan siang sekitar jam 10.00 karena bangun kesiangan, tapi ternyata tempatnya ramai pengunjung! Beruntung kami datang cuma berdua jadi langsung dapat kursi, hehe. The perks of travelling in a pair!

Penuh pengunjung walau sudah hampir siang.

Can never say no to bacon.
Roti with kaya custard. Kaya custard-nya enak banget!
Iced thai tea setiap hari, literally.
Kaya custard dan rotinya bisa dibeli untuk takeaway juga.

2. GRAND PALACE

Dari On Lok Yun kami berjalan kaki menuju Grand Palace. Kami jalan lumayan jauh, karena meskipun di peta On Lok Yun terlihat cukup dekat dengan Grand Palace, tapi pintu utama yang bisa dimasuki ada di sisi utara (sisi jalan Na Phra Lan Road) sedangkan kami dari arah selatan.

Pintu masuk Grand Palace ada di sisi jalan Na Phra Lan Road.
Anyway, sebelum kesini aku banyak baca cerita tentang tourist scam di Grand Palace. Salah satunya adalah scam dimana supir tuktuk menghampiri kamu dan bilang bahwa Grand Palace sedang tutup, dan sebagai gantinya dia akan menawari kamu naik tuktuk ke temple-temple kecil di sekitar sana. Jujur aja, sebagai orang Indonesia, saya agak ‘belagu’ dan berpikir “Yaelah, di Indonesia banyak tipu-tipu kayak gini. Gak akan ketipu deh gue disini!” Hahaha.

Lucunya, disini kami hampir kena scam juga! Tapi dengan trik yang menurut kami lebih lihai dari contoh di atas. Sewaktu kami berjalan menuju Grand Palace, seorang pejalan kaki pria berwajah melayu, berkulit gelap, agak gemuk, kami prediksi sekitar umur 30-an, yang juga sedang berjalan kaki tiba-tiba menyapa kami dan bertanya:

Scammer (?): Going to Grand Palace?

Me (?): Yes.

?: You tourist? Where do you come from?

?: From Indonesia.

?: Oh you look like locals! I thought you were students here. I am a student here. Hope you enjoy Thailand!

?: Oh, really? Hehehe. Thank you! (Masih pagi jadi masih ramah, belum jutek.)

?: There is a ceremony today near Chao Phraya river. People are praying there. Very very beautiful for photos, you should go there. Only once in a year event, you don’t want to miss it. You see people wearing black attire right? Cause they are having a ceremony today.

?: Oh, yeah? (Lihat kanan kiri dan memang banyak banget orang pakai baju hitam-hitam). Sure I’d check it out later.

?: Yes, just go there and say that you are student here. Just pay 1200 Baht. If not, they will ask you 18000 Baht. Just take tuktuk from here. (Sambil berjalan sok-sok mau ninggalin gitu)

?: Oh okay, thank you. (Agak penasaran sedikit sih sama event yang doi bilang. Tapi aku tetap stick ke itinerary awal, Grand Palace. Jadilah kami lanjut jalan ngikutin Google Maps ke Grand Palace.)

?: (Tiba-tiba balik badan) Where are you going? Aren’t you going to the place I told you before?

?: Oh isn’t it down there? (Sambil nunjuk ke arah depan. Asal nunjuk sebenernya.) We’ll just walk.

?: No. Do you have a pen and paper? I’ll draw the map for you.

?: (Kasih paper dan pen karena nggak tega, masih merasa ini orang baik beneran)

?: (Mulai menggambar dan ngejelasin blablabla)

?: Oh okay, okay, thank you.

?: I am a good man, just want to give you info, okay? (senyum-senyum sok baik)

?: (Mulai males) Hahaha okay, got it. (Sambil mulai jalan kaki lagi tetep ke Grand Palace)

?: Hey, why you walk there?

?: Oh we’ll just go there after, we’ll go to Grand Palace first.

?: Grand Palace is close now for lunch break, just go to the place I told you first. Hey Tuktuk! (Terus dia manggil tuktuk dong! Sialan bener.)

?: No, no, no. Grand Palace first!

?: It is closed now!

?: No, I have to meet my friend there in Grand Palace! (bohong demi kabur dari mas-mas ga jelas ini)

?: (Marah dan langsung pergi ninggalin!)

Nah! Begitu dia marah, kami langsung sadar bahwa itu adalah scam. Ngapain juga dia marah kalo emang dia ‘a good guy just want to give info’? Ih, gemes banget! Pake bohong bilang ada lunch break segala di Grand Palace. Dipikir-pikir, apaan kok ada lunch break segala di Grand Palace? Itu kan temple dan area istana kerajaan. Kayaknya sih si scammer itu udah komplotan sama abang-abang tuktuk disana. Mungkin dia dapet persenan kalau sampe dapet penumpang tuktuk. Well, we don’t know. Yang jelas setelah kejadian itu kami tertawa ngakak karena karena lega dan geli juga. Rasanya pengen panggil si scammer itu lagi dan bilang, “You’re trying to scam us? Didn’t you hear we’re from Indonesia?” LOL

Kenang-kenangan gambar karya mas scammer di belakang kertas itinerary kami. Dia menggambar map patung buddha yang melingkar gitu. Dia bahkan tulis “Tuk Tuk”, dan coretan angka 18000, waktu menjelaskan kalau tidak perlu bayar 18000 Baht.
Kami pun akhirnya melanjutkan jalan kaki ke Grand Palace. Pemeriksaannya lumayan ketat sebelum masuk area Grand Palace, ada metal detector dan tas kami pun dibuka untuk diperiksa.

Sesampainya di gerbang Grand Palace, pengunjung akan diperiksa lagi oleh penjaga gerbang, apakah pakaian yang dikenakan sesuai dresscode. Karena Grand Palace masih merupakan area kerajaan dan juga temple, ada dresscode yang harus kamu patuhi. Pengunjung wajib memakai celana atau rok panjang menutupi lutut, dan atasan yang menutup bahu. Beberapa tourist dicegat saat hendak masuk karena mengenakan shorts dan tank tops. Di depan gerbang Grand Palace dijual sarung dan celana Thailand, jadi beberapa dari mereka yang ditolak masuk langsung beli pakaian disini.

Dresscode ini tidak hanya di Grand Palace saja sih, tapi mayoritas kuil atau tempat wisata yang masih area kerajaan yang lain juga menerapkan peraturan yang sama. Tips dari aku adalah untuk menyatukan semua tujuan-tujuan yang harus pakai dresscode ini di hari yang sama, supaya pakai celana dan rok panjangnya bisa di satu hari saja.

Masuk ke area Grand Palace kalian akan melihat lapangan kerajaan. Dari sini masih belum ada tiket masuk, jadi kalian masih bisa numpang foto disini tanpa harus membayar tiket. Berjalan ke depan sedikit, barulah ada loket tiket.

Loket tiket dan papan dresscode.

Tiket masuk Grand Palace lumayan mahal untuk ukuran tourist sites di Bangkok, 500 Baht (sekitar Rp 200.000,-. Tapi harga segitu menurutku worth it karena Grand Palace adalah area yang sangat luas untuk dieksplor. Jika sudah membeli tiket 500 Baht ini, maka gratis juga masuk ke Ananta Samakhom Throne Hall dan Vimanmek Mansion, yang sayangnya tidak sempat kami datangi karena waktu yang mepet. Lagipula banyak yang bilang Grand Palace ini adalah number 1 must see in Bangkok, jadi sayang untuk dilewatkan.

Ramai banget! Perlu ekstra kesabaran untuk tunggu sepi.

Golden view!

Pardon my weird eyes.

Kalau sering melihat foto-foto area Grand Palace yang berisi kuil-kuil megah dan stupa emas, itulah kompleks Wat Phra Kaew atau The Temple of Emerald Buddha. Kuil di kerajaan ini areanya memang terpisah membentuk kompleks sendiri dari bangunan-bangunan lain di Grand Palace. Tidak semua bagian dalam kuil bisa dimasuki. Kemarin ada 1 kuil yang bisa dimasuki dan kami harus copot sepatu, jadi tips lagi adalah pakai sepatu yang mudah dilepas pasang saat kesini.

3. BLUE WHALE MAHARAJ

Saat ke Grand Palace, biasanya orang juga mengunjungi 2 temple lainnya yaitu Wat Pho (The Reclining Buddha) dan Wat Arun. Rata-rata orang memasukkan trio tempat ini ke dalam itinerary nya di hari yang sama. Kami skip ke Wat Pho karena pertimbangan waktu. Awalnya memang ada di itinerary kami, tapi akhirnya berubah juga karena bangunnya kurang pagi, dan panas terik Bangkok membuat kami jadi slow jalannya. 


Menuju Wat Arun dari Grand Palace bisa dengan berjalan kaki ke Tha Thien Pier dan lanjut naik boat Chao Phraya Express. Ya, Wat Arun dan Grand Palace memang terpisah oleh sungai Chao Phraya. Dari Grand Palace ke Tha Thien Pier lagi-lagi kami mengandalkan arahan Google Maps. Saat berjalan dari arah Grand Palace menuju Tha Thien Pier, kami melewati area luar Wat Pho juga. Lumayan deh bisa lihat Wat Pho dari luar walau nggak masuk hehe.

Sebelum menuju Tha Thien Pier, kami mampir dulu ke Blue Whale di jalan Maharaj, sebuah kafe yang dekat sekali dengan Wat Pho. Aku memang sudah lihat-lihat kafe ini di Instagram dan suka dengan dekorasinya yang serba biru. Dan pas banget untuk ngadem dan istirahat setelah capek keliling Grand Palace.

Wajah-wajah tepar kepanasan.

Blue craze here.

4. WAT ARUN

Dari Blue Whale, berjalan kaki sebentar mengikuti arahan Google Maps melewati deretan toko-toko dan restoran, hingga sampai ke gerbang kecil yang nyaris nggak kelihatan dan nggak menonjol tapi ramai orang. Itulah Tha Thien Pier. Dari Tha Thien Pier ini kami naik boat untuk menyeberang sungai ke Wat Arun. Tiketnya seharga 4 Baht (sekitar Rp 1.600,-).

Lorong menuju Tha Thien Pier.

Boat menyeberang ke Wat Arun.
Menuju Wat Arun. Deket banget jaraknya, pantas tiketnya cuma 4 Baht.
Tiket masuk untuk ke Wat Arun adalah 100 Baht (sekitar Rp 40.000,-). Wat Arun ini juga memiliki dresscode seperti Grand Palace.

Wat Arun ini salah satu favoritku karena cantik banget. Seluruh permukaannya dihiasi oleh keramik dan colored glass, detailnya luar biasa menurutku. Area temple-nya tidak terlalu besar, dan lebih sepi dibanding Grand Palace jadi lebih enak untuk yang mau foto-foto.

Bulan Juni 2017 kemarin, Wat Arun masih dalam proses renovasi di bagian puncak stupa-nya, jadi kami tidak bisa naik sampai ke atas banget. Sedih sedikit karena nggak bisa naik ke atas, tapi lebih banyak salutnya dengan pariwisata Thailand yang concern menjaga objek wisata negaranya seperti contohnya Wat Arun ini. Bayar tiket jadi tidak sia-sia, karena objek wisatanya betul-betul dirawat. Aku sempat browsing foto-foto Wat Arun sebelum dipugar, keramiknya sudah mulai menghitam karena usia dan cuaca. Sekarang sudah bersih kembali. Two thumbs up !

 

Selesai keliling Wat Arun, kami menuju ke dermaga dan naik Chao Phraya Express Boat ke Sathorn Pier karena mau lanjut BTS Saphan Taksin ke Central Embassy. Chao Phraya Express Boat ini berhenti satu-satu di dermaga sepanjang Chao Phraya River, jadi tiketnya agak mahal yaitu 40 Baht (Rp 16.000,-).

5. BTS (Bangkok Mass Transit System)

Kami sudah nyobain naik BTS (Skytrain) dari hari pertama, tapi aku akan jelaskan singkat mengenai cara naik BTS di post ini.

Well, BTS ini kurang lebih sama dengan MRT di Singapore dan KL, ataupun JR di Jepang. Jadi kalau kamu pernah naik contoh kereta-kereta di atas, pasti nggak akan bingung untuk naik BTS. Malah menurut aku BTS ini lebih sederhana, karena rutenya nggak banyak, hanya ada 2 line: Silom Line dan Sukhumvit Line.

Line hijau adalah Sukhumvit Line, line biru adalah Silom Line.
Info untuk yang belum pernah naik kereta rapid transit seperti ini (ugh, I blame our previous government! Negara tetangga udah pada punya semua, hari gini kita masih proses bikin, itu juga masih banyak orang yang nyinyirin bilang buang-buang uang, dll. Semoga MRT di Jakarta cepet jadi ya!), kereta rapid transit seperti ini biasanya dibagi menjadi 3 jenis: di bawah tanah, di permukaan tanah, dan di atas atau di langit (skytrain). Untuk di Bangkok, yang di atas disebut BTS, yang di bawah tanah disebut MRT (tapi aku sempet baca ada line MRT Bangkok yang di tanah juga, CMIIW). Perlu diingat bahwa BTS dan MRT di Bangkok adalah 2 kereta yang berbeda, beda sistem juga. Ada beberapa stasiun BTS yang terintegrasi dengan MRT, namun kamu harus membeli tiket yang berbeda jika ingin ganti dari BTS ke MRT ataupun sebaliknya.

Kebanyakan turis pasti lebih sering naik BTS di Bangkok, karena jangkauannya banyak ke area-area yang biasa jadi tujuan turis, seperti Mo Chit kalau mau ke Chatuchak, atau Siam kalau mau wisata belanja di mall-mall. Kekurangan dari BTS adalah jangkauannya kurang luas. Kalau kamu menginap di daerah Khaosan (daerah backpackers di Bangkok) contohnya, daerah ini tidak dilewati oleh BTS.

Membeli tiket di BTS, yang perlu kamu cari tahu pertama adalah stasiun tujuan kamu. Jika sudah tahu, kamu bisa pilih untuk beli tiket di vending machine atau ke loket. Gampangnya sih ke loket, tapi kadang antriannya panjang. Kalau sudah paham pakai mesin, lebih enak beli di mesin karena cepat. Di BTS ini sistem mesinnya bukan touch screen jadi lebih cepat dan antriannya nggak seperti di Singapore yang biasanya panjang karena isinya turis yang bingung cara pakai mesin touch screen (contohnya diriku 7 tahun lalu saat pertama kali ke Singapore :p).

 

Antrian loket biasanya cukup panjang terutama di stasiun-stasiun yang ramai.
Di setiap stasiun, di samping mesin tiket ada peta BTS dan harga ke tiap stasiun tujuan. Cari stasiun tujuan kamu di peta, angka disampingnya adalah tarif tiket kesana. Tinggal tekan tombol sesuai nominal harga stasiun tujuan kamu di mesin, masukkan koin (hanya terima koin. Tidak harus uang pas, bisa kembalian), lalu akan keluar kartunya. Kalau tidak punya koin, kalian bisa tukar koin di loket.

Panel kiri berisi nama stasiun tujuan dan tarif tiket kesana. Panel kanan adalah mesin tiketnya.
Untuk tarif BTS dari stasiun satu ke stasiun lainnya, bisa cek juga di website BTS.

DAY 5

6. CHATUCHAK WEEKEND MARKET

Belum afdol katanya ke Bangkok kalau belum ke Chatuchak Market. Chatuchak Market ini adalah pasar yang terkenal banget, menjual berbagai macam benda dari fashion hingga makanan, dan hanya ada pas weekend. Segitu terkenalnya sampai aku pun banyak dengar dari orang, “Kalo ke Bangkok harus pas ada weekend-nya ya, biar bisa ke Chatuchak!” Segitunyaaaaa. Okelah, kita lihat seheboh apa sih.

Dari hostel di Ekkamai, kami menuju Chatuchak dengan BTS, turun di Mo Chit Station. Dari Mo Chit ini cukup jalan kaki sedikit sudah sampai di Chatuchak.

Dan Chatuchak itu ternyata luar biasa luassssss. Pasti puas browsing-browsing barang dan belanja disini, tapi harus siap gerah dan panas terutama kalau beli jajanan makanan karena lokasinya di pinggir-pinggir bagian luar yang langsung kena paparan teriknya sinar matahari. Kalau belanja fashion atau item lain, masih lebih enak karena adem lokasinya di dalam.

Aku sendiri senang jalan-jalan di Chatuchak karena barangnya banyak yang unik. Untuk dibilang murah atau enggak, menurutku aku lumayan aja sih… yang pasti nggak mahal tapi kalo dibilang murah banget juga enggak. Mungkin karena aku emang nggak niatin belanja di Bangkok ini, jadi nggak terlalu excited. Ke Chatuchak malah beli titipan nyokap dan beberapa oleh-oleh, sisanya jajan makanan hehe.

Ini opiniku pribadi, tapi di Chatuchak ini pengunjungnya kebanyakan turis jadi kurasa harganya jadi agak sedikit mahal dan penjualnya agak kekeh kalo ditawar, terutama kalo tokonya yang di depan-depan. Semakin tokonya tersembunyi biasanya dia lebih gampang ditawar. Anyway, dari beberapa blog yang aku baca, banyak yang dapat barang lebih murah di Pratunam atau Platinum Mall daripada di Chatuchak, terutama untuk fashion item.

Jadi tips ku untuk yang ke Chatuchak adalah: kesini untuk jajan makanan dan oleh-oleh saja. Fashion item, menurutku beli disini kalo memang unik (misalnya buatan local designers. Disini unik-unik banget!). Kalau kelihatannya barang mass product, lebih oke cari di Platinum Mall atau Pratunam Market.

Untuk jajanan makanan disini jangan ditanya deh, juara! Hahaha.

Coconut ice cream! 55 Baht.
Toppingnya sepuasnya bisa ambil sendiri.
Fave topping is definitely sticky rice.
Lusuh habis belanja tapi seneng dapet coconut ice cream!

7. IBIS STYLES KHAOSAN VIENGTAI

Hari ke-5 ini kami pindah hotel ke daerah Khaosan karena pengen tahu kayak apa sih Khaosan itu yang terkenal jadi area backpackers. Hotel yang kami pilih adalah Ibis Styles Khaosan Viengtai.

Beberapa alasan memilih hotel ini adalah yang pertama adalah karena baru banget direnovasi. Dari dulu aku selalu lebih prefer hotel yang baru buka atau baru direnovasi, karena simpel aja sih: biasanya furnitur dan ruangannya masih baru dan bersih. This is just my preference though. Karena ada minus-nya juga kalo pilih hotel yang baru buka, misalnya sistemnya masih belum siap atau service pegawainya masih belum oke.

Dulunya sebelum di-takeover oleh Ibis, Viengtai Hotel merupakan salah satu hotel tertua di area Khaosan. Setelah direnovasi ulang oleh Ibis group, hotelnya berubah jadi modern sekali dan youthful sesuai dengan daerah Khaosan sendiri yang didominasi oleh anak muda dan backpackers. Kolam renangnya lucu banget! Warna-warni!

The room.

View this post on Instagram

Life is better by the pool. 🌈

A post shared by Travel & Wander Blogger (@j_anandary) on

Lokasi Ibis Khaosan ini juga strategis sekali, dekat dengan Khaosan Road. Jajanan kaki lima, kafe, atau bar tersebar di kanan kiri, convenience store seperti 7-Eleven juga ada di dekat hotel. Di depan hotel juga dijual oleh-oleh segala, tas-tas hingga daster Thailand, mirip yang dijual di Chatuchak walau pasti lebih mahal. Lengkap deh! Tapi perlu diingat bahwa ini area yang youthful dan banyak bar-bar sekitarnya, jadi aku tidak terlalu rekomen daerah ini untuk family trip yang bawa anak kecil.

8. THIP SAMAI PAD THAI

Sudah hari ke-5 di Bangkok dan mencicipi berbagai makanan khas, tapi kami belum coba Pad Thai. Masa ke Bangkok nggak cicipin Pad Thai? Googling dengan keyword ‘best pad thai in bangkok’, dan muncul nama Thip Samai. Begitu dicek, wah tidak terlalu jauh dari Khaosan! Langsung jalan kakilah kami kesana sekalian menikmati suasana jalanan Bangkok di malam minggu. Lagi-lagi dengan pertolongan Google Maps saja.

Jalanan Bangkok di malam minggu.
Sampai di Thip Samaai, idak disangka antriannya panjang banget! Kami langsung tertawa begitu melihat antrian, tapi ya yang namanya turis, lihat antrian panjang bukannya mundur malah makin penasaran. Kalo saya locals sih mungkin saya sudah cabut karena malas antri. Dari hasil pandangan mata sih, antrian di Thip Samai adalah 60-70% turis asing. Mungkin ‘korban’ Google juga seperti kami, hehe!

Antrian yang mengular.

Meski antriannya panjang, line-nya bergerak cukup cepat. Kami mengantri tidak sampai satu jam. Mungkin salah satu alasannya karena banyak yang minta duduk di indoor. Di depan saya masih ada sekitar 10 orang yang antri, tapi semuanya minta duduk di indoor dan terpaksa nunggu. Begitu waiter-nya bertanya pada kami mau duduk dimana, aku jawab, “Anywhere is okay!” Kami langsung dapet duduk di meja outdoor.

Trio koki di Thip Samai.
Jujur aja aku lupa-lupa inget apakah pernah makan pad thai sebelumnya. Kok rasanya pernah tapi kok nggak inget ya bentuknya kayak apa. Begitu pad thai nya datang, saya langsung teringat kok mirip lumpia basah ya? Hahaha.

Menurutku pad thai Thip Samai ini enak. Seafood-nya berasa. Tapi nggak bisa bilang enak banget juga, karena nggak punya pembanding. Pilih pad thai yang di-wrap dengan telur, karena memang itu recommended menu-nya dan juga supaya lebih kenyang.

Thip Samai pad thai wrapped with egg. 90 Baht per piring.
The menu.

9. KHAOSAN ROAD

Sepulang dari Thip Samai menuju hotel, kami mampir ke Khaosan Road. Wah, Khaosan Road ini mengingatkan akan Legian di Bali deh. Khaosan Road ini adalah sebuah jalan besar yang saat malam hari ditutup, dan kanan-kiri isinya restoran dan bar. Hingar bingar musik terdengar sepanjang jalan.

Lively Khaosan Road.
One of the bars.
Kebanyakan pengunjungnya turis asing. Jajanan kaki lima juga banyak disini. Tapi aku nggak berani rekomen karena sempat beli mango sticky rice di pinggir jalan sini dan rasanya kurang enak 🙁

DAY 6

10. TO AIRPORT SUVARNABHUMI

Hari terakhir di Bangkok, hanya kami isi dengan breakfast dan berenang di hotel. Sempat jalan sedikit keluar hotel untuk cari Cha Tra Mue paketan untuk bikin thai tea sendiri di rumah, dan ketemu di toko kelontong dekat hotel. Isi 190 gr hanya 35 Baht (sekitar Rp 14.000,-). Di bungkusnya bilang 2 gr bisa untuk 1 gelas. Berarti 1 bungkus ini bisa untuk 95 gelas! Wow.

Penampakan Cha Tra Mue tea mix packet. Salah satu oleh-oleh favorit juga dari Thailand.
Dari hotel kami ambil Grab ke Phaya Thai station untuk ambil Airport Rail Link (ARL) lagi ke Suvarnabhumi. Fare Grab-nya sekitar 100 Baht (Rp 40.000,-).

Tiket ARL 45 Baht (sekitar Rp 18.000,-). Menunggu sebentar sekitar 15 menit dan keretanya datang. Kebagian kursi untuk duduk karena Phaya Thai adalah stasiun terujung, jadi 45 menit perjalanan ke airport pun bisa tidur deh.

Stasiun ARL di Phaya Thai Station.
Masuknya dengan token merah ini, bukan bentuk tiket.
Setelah sampai di Suvarnabhumi Airport, ARL ini berada di lantai terbawah, jadi harus naik ke atas dulu untuk ke departure hall. Saya segera check in dan ajaibnya tidak ada antrian! Sepertinya flight Garuda Indonesia dari Bangkok ke Jakarta kali ini agak sepi.

Imigrasi di Bangkok seperti biasa ramai. Tips saya adalah untuk selalu antri di line khusus ASEAN (kalau di negara ASEAN juga tentunya). Supaya nggak bosan antri, saya iseng membandingkan line antrean saya yang khusus ASEAN dengan antrian lain. Ternyata meski antriannya sama panjang, line ASEAN lebih cepat majunya. Mungkin karena sesama ASEAN tidak perlu visa, jadi petugasnya pun tidak cek visa jadi pemeriksaan lebih cepat (ini tebakan aja sih).

Untuk x-ray di airport Bangkok, harus copot sepatu dan sepatu masuk x-ray, jadi usahakan pakai sepatu yang mudah dicopot. Dan pakai kaus kaki yang bagus, jangan yang bolong. Hehe!

Airport Suvarnabhumi ini modern, mewah dan bagus. Duty free bertebaran disana-sini, toko-toko high end brand juga ada. Restorannya ada banyak, tapi lumayan mahal. Kebanyakan menunya di atas 100 Baht, bahkan untuk minumannya.

Banyak restoran dan booth disini yang menjual mango sticky rice juga seharga 180 Baht. Mahal sih kalo dibandingkan yang ada di kaki lima biasanya yang hanya 50-60 Baht. Tapi sepertinya tetap banyak yang beli tuh untuk oleh-oleh.

Airport-nya modern.

Overall suka banget liburan di Thailand! Kenapa?

  1. Makanannya murah dan enak! Kayaknya dari kemarin nggak nemu makanan yang nggak enak, hampir semua enak deh. Parah. I’d happily move to Bangkok for sake of the food.
  2. Penginapannya variatif banget dari tipe sampai harga. Dari losmen, hostel, sampai hotel berbintang 5 ada, and in good price. Rasanya seneng-seneng pusing waktu browsing penginapan, karena pilihannya banyak tapi affordable dan kualitasnya bagus. Bahkan di Jakarta susah lho bisa nemu hostel yang murah tapi kualitasnya bagus seperti di Bangkok. Mungkin karena turis di Bangkok bejibun banyaknya, persaingan harga untuk hostel dan hotel disini ketat.
  3. Transportasinya oke, sudah ada BTS dan MRT. Kalo lagi males naik turun kereta dan punya dana extra, bisa naik Grab atau Uber. Atau tuktuk. Ada bus kota juga yang lebih murah, tapi agak susah dimengerti karena rutenya tertulis dalam bahasa Thai.
  4. Ketakutan lantaran nggak bisa baca huruf Thai hilang, karena kebanyakan signage ataupun tulisan di jalan tertulis dalam huruf latin juga kok. Tapi ini mungkin ini juga karena saya hanya ke Bangkok dan Hua Hin ya. Belum tentu untuk di daerah pelosok Thailand.
  5. Bahasa Inggris orang Thai lumayan kok. Awalnya kami udah siap mengerahkan kemampuan bahasa Tarzan karena hasil blogwalking banyak yang bilang orang Thai nggak bisa bahasa Inggris. Tapi ternyata orang sana lumayan ngerti bahasa Inggris kok meski basic. At least nggak perlu tuh ngeluarin kalkulator buat tunjuk harga kayak di Hongkong. Tapi mungkin itu juga karena kami nggak pernah nanya yang ribet-ribet seperti nanya arah jalan, karena kami selalu mengandalkan Google Maps.
  6. Nggak ada tuh di-suit-suit-in atau di-catcalling sama cowok-cowok disana. Mungkin karena cewek-cewek Thai pada cantik-cantik semua (even beberapa cowok pun cantik, ehem) jadi pemandangan cewek adalah hal biasa disana? Haha. Anyway, sebagai perempuan saya merasa aman travelling di Bangkok. Next time pengen coba solo trip kesini.

Well, nggak heran kalau Thailand jadi most visited country in 2016. They are very ready for the tourists. Will do visit here again! Thank you for the nice trip, Thailand!

RESUME ITINERARY & BUDGET DAY 4, 5 & 6:

P.S. :

  1. Perhitungan di atas untuk 2 orang (2 pax)
  2. THB adalah hitungan dalam Baht, dan IDR untuk perkiraan dalam Rupiah (dengan asumsi 1 Baht = Rp 425,-)
  3. Trip di atas dilakukan pada bulan Juni 2017
  4. Belum mencakup budget belanja dan jajan-jajan sampingan

 

 

22 thoughts on “Thailand Trip Part 3: Hampir Kena Scam di Grand Palace (+ Itinerary & Budget)

  1. Hai, makasih banyak ya penjelasannya detail dan sangat mudah dimengerti.

    Mau tanya dong, waktu yang ke Grand Palace, terus yang jalan sampai ke Wat Arun modelan jalannya gimana ya? Kalau saya bawa stroler gitu ok kah? Soalnya memang dengar katanya Bkk ga ramah stroler. Terima kasih sebelumnya.

    Salam kenal ^^,

    1. Hi! Senang kalo ternyata tulisanku bisa mudah dimengerti.

      Dari Grand Palace ke Wat Arun bisa ditempuh jalan kaki. Untuk trotoarnya sih cukup oke menurutku, tapi kemudian harus dilanjut naik boat untuk menyeberang sungai. Nah, yang ini aku nggak yakin akan ramah stroller. Mungkin kalo bawa bayi atau balita lebih baik naik taxi saja supaya lebih aman 🙂

      Salam kenal juga Pypy!

  2. Salam kenal kak.. Tq buat ulasannya, detail.. Kak sy mau tanya, dr hotel tempat kakak menginap ke bandara memakan waktu berapa lama kak?
    Terimakasih..

  3. Pas banget tgl 27 nanti pertama kalinya ke Thailand dan ternyata budget harus dipress. Terus liat blog ini dan thank God kebantu banget. I like how you tell the stories in clear and direct explanation. Itinerarynya hampir mirip juga jadi beneran ketolong! Thanks for this yah!

    ❤️❤️❤️

  4. hi sis..
    great blog..beruntung banget bisa nemu blog ini 🙂
    saya rencana minggu depan 4-8 mei ke BKK.. untuk transportnya masih terpecah antara sewa mobil atau pakai grab aja.
    yg jadi pertanyaan, susah ga ya cari grab di sekitaran BKK. Apakah sebanyak di jakarta? dan rata2x bisa bahasa inggris ga yah. dan apakah worth it kalau misalkan itinerarynya : Grand palace – Wat Arun – Wat Saket – Asiatique dengan sewa mobil yg kisarannya di 2000 bath?

    sorry kalau kepanjangan.. thanks in advance 🙂

    1. Hi Andre,

      Cari Grab di Bangkok gampang kok, jumlahnya banyak kayak di Jakarta. Aku 3x naik Grab disana, dapet supir yang lumayan bahasa Inggrisnya. Salah satunya malah fasih banget.

      Aku belum pernah ke Wat Saket. Tapi Grand Palace, Wat Arun, Asiatique, itu lokasinya di dekat sungai Chao Phraya dan mostly orang lebih pilih naik boat aja untuk kesana.

      Worth it atau nggak tergantung banget ya. Kalo bawa orangtua, dan males nunggu Grab (belum lagi ribet bahasa) mungkin worth it harga segitu. Kalo masih pada muda-muda, budget backpacker, dan gak terburu-buru trip-nya menurutku mending naik Grab, atau naik Chao Phraya Express (boat keliling sungai Chao Phraya) aja 🙂

  5. hai.. numpang nanya yah..
    kl menginap di daerah Makkasan, apa bisa pakai Airport rail link untuk ke Phaya Thai atau ke Siam?
    atau Airport rail link hanya khusus dari dan ke airport? thx yaa..

  6. Really happy and excited when found and read your experience in Bangkok. Keep in the good work to write a good story every your journey Anandary.

    Salam kenal 😊

  7. Hay kak, suka banget Sama tulisannya
    Jadi pengen Nyobain juga

    Anw Aku ada yg Mau ditanyakan NIH…Knapa Gg pergi ke golden Buddha Dan laser Buddha ya…

    Tengkyu

    1. Laser buddha kalo gak salah dekat Pattaya ya? Saya gak ke daerah sana. Saya cuma taruh 1 hari untuk temple-hopping, paling ideal ke Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun karena berdekatan

  8. Haiii salam kenal suka bgt baca blog nyaa kbtulan ada rencana trip ke bangkok, dan rencana mau ngikutin itinerary ini plek plek sama heehee mau tanyaa klo di daerah Ekkamai nginepnya dihotel apa? Dan untuk makan ke salah satu restoran oldies di daerah Old Siam yang terkenal dengan menu sarapannya yaitu On Lok Yun itu naik apa kesana yaaa? Terimakasih

    1. Di Ekkamai aku menginap di BOB Hostel, tapi aku kurang recommend karena jauh jalannya dari BTS sekitar 1 KM. Mending cari yang sepanjang jalan itu juga tapi lebih dekat ke BTS. Waktu ke On Lok Yun aku naik Grab/Uber 🙂

      1. Klo daerah ekkamai letaknya strategis gaa yaaa deket kmn2 gtu? Klo ke wat arun brp lma? Soalnya dibangkok cm sehari jdnya mau nyari hotel yg deket kmn2 biar ga makan wkt?. Kira2 mendingan nginep daerah ekkamai atau daerah victory monumen yaaa?

        1. Semua tergantung destinasi mau kemana. Mungkin cari penginapan daerah Siam aja supaya di tengah-tengah. Cek google maps untuk estimasi waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain.

  9. thx google udh nge damparin gua di blog ini wkwkwk anyway mau tanya, nginep di daerah khaosan susah transport ngak ya? saya lagi bandingin khaosan ma pratunam. untuk 3 nights beda sampe 500rb T_T karena saya sebisa mungkin ngehindarin make grab karena traffic di bangkok parah banget kayaknya ya

    1. Khaosan gampang kok tapi paling naik bus (atau Grab) ya. Memang gak sepraktis Pratunam yang dilewati BTS. Tapi naik BTS pun nggak murah sih kalau jarak jauh dan muter-muter hehehe. Balik lagi ke tujuan wisatanya mau kemana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *