Beijing Trip Part 1: Temple of Heaven & Central Perk (+ Itinerary & Budget)

Rasa penasaran akan negeri China akhirnya terpuaskan di bulan November 2017. Setelah berbagai pertimbangan destinasi kota, pilihan pun jatuh ke Beijing, sang ibukota. Agak bikin deg-degan karena ini merupakan solo trip pertamaku yang benar-benar solo tanpa ada teman jalan sama sekali!

Selalu senang dengan negara Asia Timur. Kalau menilik trip sebelumnya ke Jepang, Korea, Hongkong, dan Macau, I have fond memories about all of them. Negara yang paling besar (dan katanya paling challenging) China, malah belum. Ribetnya trip ke China selain kendala bahasa adalah nyari teman jalannya susah! Kayaknya orang Indonesia lebih senang ke Jepang dan Korea, atau Hongkong (karena free visa). Setiap ngajakin teman, “Mau ke China gak? Pengen lihat Great Wall nih!”. Pasti jawabannya, “Males ah, mending Jepang atau Korea kali.” Pffftt.

Padahal bagiku China itu menarik banget untuk jadi destinasi! Terutama karena Great Wall masuk di bucket list-ku dari kecil. Siapa sih yang nggak tahu Great Wall? Another reason, is simply because I’ve never been to China.

Temple of Heaven, Beijing

Karena tahu susah cari teman jalan dari Indonesia, dari jauh hari aku sudah tahu ini bakal jadi solo trip. Jadi aku pun prepare banget untuk trip kali ini, mulai dari visa (post tentang membuat visa China bisa dilihat disini), budget, itinerary, dan lain-lain. Let’s start the trip story!

DAY 1

CGK -> DPS -> PEK (9 HOURS)

Untuk penerbangan ke Beijing, aku menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Aku book untuk direct flight Jakarta ke Beijing, namun beberapa hari sebelum keberangkatan aku dikirimkan notifikasi melalui SMS mengenai kendala teknis sehingga penerbangan diubah menjadi Jakarta ke Denpasar, lalu Denpasar – Beijing, alias aku harus transit Bali dulu.

Berangkat dari Jakarta menuju Denpasar pukul 17.15, durasi 1 jam 50 menit. Layover di Denpasar kurang lebih 2 jam. Flight Denpasar-Beijing pukul 23.55, durasi sekitar 7 jam 10 menit.

Waktu tiba di Beijing sekitar pukul 7.30 pagi. Menurutku timing-nya pas banget, karena aku sudah cukup tidur di pesawat jadi sesampai sana bisa langsung titip koper di hostel dan langsung jalan-jalan hari itu.

Nama bandara Beijing adalah Beijing Capital International Airport, dan untuk Garuda Indonesia ada di Terminal 2 (T2).

Pesawat dari Denpasar menuju Beijing menggunakan Boeing 777, pesawat terbesar-nya Garuda Indonesia. Bisa dilihat komposisi seat-nya 3-3-3.

DAY 2

AIRPORT EXPRESS TO THE CITY & YIKATONG (SMART CARD)

Untuk menuju kota Beijing dari airport, tersedia kereta cepat yaitu Airport Express. Setelah keluar dari imigrasi dan custom, cari sign Airport Express dan ikuti petunjuk arah menuju lokasi.

Rute Airport Express adalah T3 -> T2 -> Sanyuanqiao – Dongzhimen

Beijing Capital Airport Express Train Map

Tiket bisa dibeli di loket Airport Express, harganya 25 yuan (sekitar Rp 50.000,-) untuk single journey, atau menggunakan Yikatong (Smart Card).

Karena di Beijing aku banyak menggunakan kereta dan bus, aku pun membeli Yikatong atau Smart Card di loket Airport Express. Kartu yang bisa diisi sejumlah uang dan tinggal di-tap saat akan naik kereta atau bus. Lumayan untuk menghindari berlama-lama antri di single-journey ticket machine, karena di stasiun besar dan jam sibuk pasti antri belum lagi kudu bingung-bingung dulu pakai mesinnya! Jika pakai Yikatong, harga bus juga lebih murah.

Untuk 5 hari di Beijing, yikatong aku isi 250 yuan (sekitar Rp 500.000,-), termasuk di dalamnya deposit kartu 20 yuan (sekitar Rp 40.000,-). Yikatong ini juga kupakai untuk membayar Airport Express pulang dan pergi.

Airport Express. Kalo sudah ada Yikatong tinggal tap-tap saja.

Interior kereta Airport Express.

SUBWAY DAN BUS DI BEIJING

Untuk menuju ke hostel pertama, aku turun di Dongzhimen, transit ke Changchun Street station, lalu dilanjut bus sekitar 10 menit menuju ke hostel. Kedengaran ribet? Ya! Together Hostel ini memang agak di pinggir kota Beijing, tapi aku bela-belain menginap disini karena hostelnya unik banget dari segi desain.

Awalnya aku agak sangsi bisa naik turun kereta dan lanjut bus tanpa nyasar, tapi ternyata transportasi di Beijing itu udah bagus banget! Semua ketakutan karena tidak bisa bahasa Chinese apalagi baca hanzi, sirna karena hampir semua signage dan screen tersedia bilingual, Chinese dan Inggris. Kereta dan busnya juga on time.

Untuk mengecek rute subway dan bus di Beijing pun sangat mudah. Tinggal menggunakan Google Maps dari lokasi kita menuju destinasi, pilih moda transportasi train/bus, dan akan langsung muncul berbagai opsi rute dan jam keberangkatan.

Yang kurang menurutku dari subway Beijing adalah tidak terlalu ramah untuk penyandang disabilitas ataupun yang membawa koper besar, karena tidak semua stasiun tersedia lift ataupun eskalator. FYI, di setiap subway station ada pemeriksaan X-Ray di pintu masuk sehingga cukup repot jika banyak bawaan meski di sisi lain jadi lebih safe.

Rekomen banget untuk beli Yikatong (Smart Card) supaya nggak ribet antri dan tiket bus diskon jadi setengah harga.
Antrian ticket single journey machine di Beijingnan South Railway Station. Antrian panjang sekali jika di stasiun-stasiun besar, karena itu direkomendasikan untuk beli Yikatong
Inside the subway in Beijing

 

TOGETHER HOSTEL

Together Hostel ini berlokasi di lantai 3 dan 4 sebuah bangunan hotel cukup mewah Beijing Rishengchang Hotel. Cukup membingungkan karena tidak ada signage-nya dari luar. Untungnya aku sudah browsing cukup mendalam dengan membaca semua review di Agoda jadi sudah ngeh bahwa lokasinya memang di dalam bangunan hotel.

Together Hostel ini memiliki beberapa jenis kamar. Kebanyakan tamunya adalah traveler Chinese juga, jadi agak sulit untuk bertemu traveler luar yang berbahasa Inggris. Tapi disini aku sukses berkenalan dengan cewek Chinese dan ngobrol via Google Translate karena dia nggak bisa bahasa Inggris! Kocak deh, dan lumayan tak terlupakan karena bayangkan betapa nggak nyambungnya obrolan kami karena tahu aja Google Translate suka ngaco.

Di hari pertama tersebut aku tiba di hostel sekitar pukul 11.00 sedangkan check in time adalah pukul 15.00. Aku pun numpang sikat gigi dan cuci muka, titip koper, dan langsung melanjutkan perjalanan di hari pertama.

Common area of Together Hostel Beijing
Pantry

The unique bunkbed!
Love love love the interior.

TEMPLE OF HEAVEN

Salah satu destinasi paling terkenal di Beijing, dan salah satu favoritku juga! Untuk kesini, ambil subway ke Tiantan East Gate. Berjalan beberapa meter akan langsung ketemu gerbang dan loket penjualan tiket masuk Temple of Heaven.

Untuk masuk kesini aku membeli combination ticket seharga 30 yuan (sekitar Rp 60.000,-) mencakup tiket masuk Hall of Prayer for Good Harvests, Circular Mound Altar & Echo Wall. Harga tiket disini bergantung tanggal kedatangan. Di bulan November – Maret, tiketnya lebih murah. Di bulan April – Oktober, tiketnya seharga 35 yuan (sekitar Rp 70.000,-).

Temple of Heaven ini luas sekali dan banyak taman. Hijau banget deh! Sempat baca kalau datang pagi-pagi, bisa lihat banyak kakek nenek berlatih taichi disini. Sayang saat itu sudah siang, dan aku hanya lihat ada 3-4 orang berlatih taichi.

Loket tiket untuk Temple of Heaven
Tersedia audio guide untuk disewa dan ada yang Bahasa Indonesia!
The ticket!

Hijau banget! Sukaaaa

GALAXY SOHO

Kalau bergelut di bidang arsitektur atau desain interior, pasti kenal dengan the late Zaha Hadid. Karena itu juga, aku memasukkan Galaxy Soho ke dalam itinerary. Nggak ada tujuan jelas mau kemana, cuma pengen lihat dengan mata kepala sendiri aja si Galaxy Soho ini. Dan ternyata kece banget <3

Galaxy Soho ini adalah sebuah kompleks bangunan, terdapat kantor dan toko, beberapa kafe dan restoran. Tapi cukup sepi. So if you’re not a fan of architecture or Zaha Hadid, you probably want to skip this place. Untuk kesini, turun di subway station Chaoyangmen.

P.S. This is one of the perks of travelling solo. Bisa ke tempat yang dimau tanpa memikirkan perasaan travelmate. Kalau aku trip bareng temen yang nggak ngerti arsitektur, mungkin bete kali diajak kesini hehehe!

Admirable from every angle!

CENTRAL PERK CAFE

Fans berat TV show F.R.I.E.N.D.S harus kesini! Ini adalah salah satu tujuan di Beijing yang aku temukan secara nggak sengaja dan malah jadi salah satu yang paling bikin excited.

Lokasinya ada di Chao Wai SOHO Building Tower A 6th Floor. Turun di subway station Dongdaqiao.

Naik lift menuju lantai 6 dan jangan kaget karena lantai tersebut sepi banget. Berjalan sedikit hingga ketemu tulisan F.R.I.E.N.D.S cafe, dan voila! Ternyata cafe-nya ramai dan seluruh kursi hampir terisi meski saat itu weekday. Semua khusyuk nonton rerun episode F.R.I.E.N.D.S di layar TV!

F.R.I.E.N.D.S FAN’S KIND OF LITTLE HEAVEN

Setelah kedinginan seharian di Beijing dengan suhu sekitar 5 derajat, pesan 1 hot americano dan 1 cheesecake sambil nonton di TV, rasanya bahagia banget. Duh, ngebayangin kalo ada F.R.I.E.N.D.S cafe di Indonesia pasti aku nongkrong terus deh, kalo perlu jadi member!

One hot Americano and one cheesecake was perfect after battling a 4 degrees Celcius weather outside

Interiornya menyerupai Central Perk seperti di tv show-nya, dan ada 1 ruangan di samping yang menyerupai apartemen-nya Joey dan Chandler! #fangirlingsohard

Can you spot Hugsy?
The kitchen!
The iconic Joey’s entertainment center.

View this post on Instagram

Hanging out at Chandler and Joey's.

A post shared by Travel & Wander Blogger (@j_anandary) on

DAY 3

PAGODA LIGHT HOSTEL

Untuk hari ketiga, aku pindah ke hostel yang lebih di tengah kota supaya lebih mempermudah akses untuk jalan-jalan di Beijing, yaitu Pagoda Light Hostel.

Hostelnya bersih, dekat dengan mini market, restoran, dan hanya sekitar 500m dari subway station. Untuk foto lengkapnya bisa lihat di website-nya.

Pagoda Hostel Beijing

NANLUGUOXIANG

Nanluguoxiang adalah jalan di Beijing yang vibe-nya anak muda banget, dengan kafe dan toko-toko berjajar di kiri kanan. Hampir seperti Harajuku-Shibuya di Tokyo, atau Myeongdong-Hongdae di Seoul.

Kalau cari jajanan hits anak muda ke Beijing, disini tempatnya. 

Sering lihat ini di internet akhirnya nyobain. Kalo gak salah ini buah plum, sugar-coated.

Untuk berbelanja pun terdapat banyak butik dan toko. Favoritku disini adalah Miniso (Miniso di Beijing barangnya bagus-bagus dan unik! Jauh dibandingkan Miniso Korea yang kebanyakan jual plushies), dan berbagai brand Chinese lainnya yang lucu-lucu, dari apparel hingga makeup dan skincare.

Nggak mungkin jalan-jalan disini tanpa jajan atau belanja!

Ini salah satu destinasi favoritku di Beijing. Tempat belanja dan makan yang modern tapi nuansanya masih kental tradisional Chinese-nya. Nanluguoxiang ini sangat mudah dijangkau dengan subway karena lokasinya persis di samping subway station Nanluguoxiang.

 

BEIJING AQUATIC & BIRD’S NEST STADIUM

Seriiiing banget lihat si stadium yang arsitekturnya kece ini di internet, dan ternyata lokasinya di Beijing! Sisihkan waktu untuk kesini di malam hari supaya bisa melihat lampu-lampunya.

Gerbang masuk area Beijing Olympic Park
Bird’s Nest Stadium
Entah kenapa gaya ini favorit kalo difoto pake tripod. Less awkward hahaha
Aquatic Stadium

Banyak juga tour berisi turis Chinese yang kesini, kemungkinan dari kota-kota di luar Beijing.

Untuk kesini, turun di subway station Olympic Sports Center. Disinilah destinasi terakhirku hari ke-2 di Beijing!

See you on part 2, perjalanan dari Beijing ke The Great Wall – Mutianyu section!

RESUME ITINERARY BUDGET DAY 1, 2, & 3

  1. Perhitungan di atas untuk 1 orang (1 pax)
  2. CNY adalah hitungan dalam Yuan, dan IDR untuk perkiraan dalam Rupiah (dengan asumsi 1 Yuan = Rp 2000,-)
  3. Trip di atas dilakukan pada bulan November 2017
  4. Belum mencakup tiket pesawat, hotel, budget belanja, dan jajan sampingan
  5. Karena menggunakan Yikatong (Smart Card) untuk bus dan subway, harga tiket masing-masing perjalanan tidak tercantum. Saya menggunakan Yikatong dengan isi 500.000 cukup untuk 5 hari di Beijing termasuk Airport Express PP

 

 

 

12 thoughts on “Beijing Trip Part 1: Temple of Heaven & Central Perk (+ Itinerary & Budget)

  1. Halo, saya sekeluarga mau rencana ke Beijing November 2018.

    Mau tanya, untuk koneksi internetnya pakai apa? Saya rencana mau ambil paket roaming TSEL. Apa betul kalau paket TSEL masih bisa pakai Whatsapp dll?

    Terimakasih

    Venny

    1. Saya juga pake TSEL kok disana. Lancar internetannya. Malah pake wifi disana susah banget nyambungnya udah nyoba pake beberapa VPN. Jadi roaming TSEL penyelamat banget sih…

      1. Hai Jennifer, salam kenal. Berarti pake paket roaming TSEL saja udah bisa buat buka google maps, translate, aplikasi klook, browsing, dll?

  2. Hai kakak~ tanyaa dong
    klo aq booking hotel 1room (isi 2org) aq isi 4org boleh gak ya ?
    hehehe, soalnya lagi bingung mau cari hotel/hostel. Aq coba di airbnb pada bnyk yg nda mau terima tourist >_<

    1. Beberapa hotel ada yang strict ada yang engga soal okupansi orang per kamar. Most of the time kamu bakal kena charge extra bed sih paling. Hostel ada banyak kok di Beijing, dan bisa pesan 4 beds. Rata-rata per kamar hostel isi 4 – 8 beds.

  3. Hallo kak, salam kenal. Saya rencana pertengahan tahun depan ingin ke beijing. Kalo untuk budget keseluruhan itu brp ya kak? Yg harus dibutuhkan hehe.. Makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *