Beijing Trip Part 3: Panda & Forbidden City (+ Itinerary & Budget)

Sampai di hari terakhir untuk full day explore Beijing. Awalnya nggak ada di itinerary, tapi entah kenapa mendadak ngidam lihat panda mumpung lagi di China! Tapi dimana bisa lihat panda di kota metropolitan seperti Beijing?

Panda, my animal spirit!

Destinasi paling populer untuk ketemu panda adalah di provinsi Chengdu. Disana terletak panda breeding research base. Beijing adalah kota besar metropolitan (ibaratnya Jakarta deh!). Jadi jangan harap bisa bertemu panda di alam liar. Tapi jangan sedih kalau kamu di Beijing tapi pengen lihat si ikon China di negeri asalnya. Beijing Zoo punya Giant Panda Hall!

 DAY 6

BEIJING ZOO – GIANT PANDA HALL

Beijing Zoo berlokasi di tengah kota Beijing dan mudah dicapai dengan subway. Naik subway line 4 dan turun di Beijing Zoo Station.

Beijing Zoo punya bermacam hewan di dalamnya. Karena waktu mepet aku hanya ke Giant Panda Hall saja. Harga tiket Combo Beijing Zoo + Panda Hall adalah CNY 19 (Apr – Oct) CNY 14 (Nov – Mar).

The ticket!
Loket tiket Beijing Zoo
Gerbang depan Beijing Zoo

Gerbang masuk Panda Hall

Panda Hall di Beijing Zoo area-nya cukup besar, tapi tidak terlalu banyak jumlah panda disana. Dari sejauh mata memandang, aku hanya menemukan sekitar 6 ekor panda yang terlihat.

Area Giant Panda Hall dibagi ke beberapa bagian. Ada area dimana panda bermain outdoor, ada pula area berbentuk ‘akuarium’ dengan panda di dalamnya. Terdapat pula display mengenai serba-serbi panda.

So cute!!!
Gedung display indoor

Display info mengenai panda
Yang dilakukan benar-benar cuma 2, makan dan tidur

Dipunggungin terus sama doi hahaha. Agak sedih sih mereka ditaruh di kandang dan ditontonin banyak orang dari kaca, takut stres. Walaupun kandangnya cukup besar. Semoga Beijing Zoo merawat mereka dengan baik.

Emang dasar panda, kerjaan sehari-harinya makan dan tidur! Tapi gemes banget sih terutama saat mereka makan bambu.

FORBIDDEN CITY

Salah satu yang paling ikonik dari Beijing! Kalo dengar kata Beijing, yang paling pertama kuingat adalah The Great Wall, dan yang kedua adalah Forbidden City. Dari namanya aja udah bikin penasaran, ‘Kota Terlarang’.

Pasti pernah melihat si gerbang dengan foto Mao Zhedong ini kan?

Forbidden City (Palace Museum) merupakan kompleks yang sangat besar, dulunya merupakan area tempat tinggal kaisar. Subway station terdekat adalah Tiananmen East Station.

Untuk masuk Palace Museum ini lumayan bingungin! Kurang riset, udah sampe di depan gerbang aku baru baca di website kalo masuk kesini harus beli tiket online dulu di website berbahasa Chinese! Panik, aku sempat jiper dan nggak berani masuk antrian.

Antriannya kebanyakan berisi warga lokal, yang kemudian menunjukkan kartu untuk di-scan entah kartu apa. Bermodal nekat, akhirnya aku ikut antri saja. Coba tanya ke petugasnya, dan lagi-lagi kendala bahasa. Eh, tapi aku langsung dikasih lewat aja tuh! Hehehe akhirnya bisa masuk ke area Tiananmen Tower. Ternyata untuk sampai sini aja sih belum butuh beli tiket.

Saat solo traveling dan males ngeluarin tripod, selfie to the rescue!

However, lumayan musingin beli-beli tiket untuk ke Forbidden City ini. Selain karena tiketnya dijual hanya online (di website dengan bahasa Chinese only!), dan ada kuota 80.000 per orang per harinya. Karena itu, kalo mau beli tiket Forbidden City aku rekomen untuk beli aja di Klook.

Forbidden City Ticket from Klook

Nyesel nggak browsing Klook dulu sebelum ke Forbidden City, dan cuma beli tiket tour The Great Wall. Akhirnya aku pun nggak beli tiket masuk Forbidden City dan hanya main-main di sekitar square. Lagipula ramai banget sih. Square-nya udah cukup cantik buatku.

BEIJING 798 ART DISTRICT

Beijing punya art district yang keren namanya 798 Art District. Lokasinya lumayan jauh dari tengah kota, dari subway station terdekat pun masih perlu berjalan kaki 2 KM atau naik bus. Subway station terdekatnya adalah Jiangtai station.

Galeri, murals, art exhibitions, fashion shops, ataupun kafe bisa kamu temukan di area ini. If you love art or at least checking out artsy stuffs, you will love this place. Area-nya besar sekali, untuk mengitarinya minimal butuh waktu 30 menit. Kalo masuk ke exhibition-nya satu-satu, pasti butuh waktu lebih lagi.

Dino!

Area-nya bergaya seperti abandoned factory gitu. Sayang kemaren kedinginan dan kecapekan jadi niat ngeluarin tripod buat foto telah tiada.

Menurutku ini salah satu area terkeren di Beijing, dan suasana-nya ‘nggak Beijing banget’, if you know what I mean.

Jujur aja, karena waktu itu lagi musim dingin aku agak nggak semangat keliling 798 Art District karena kedinginan! Area-nya outdoor, dan udah kelelahan juga jalan 2 KM dari station jadi bawaannya malah menggigil. Alhasil foto-fotonya cuma dikit. Kalo ke Beijing lagi (dan bukan pas winter) pengen explore sini lagi.

 

DAY 7

BEIJING CAPITAL AIRPORT TO SOEKARNO HATTA AIRPORT

Untuk dari kota ke Beijing Capital Airport aksesnya mudah dengan kereta cepat Airport Express. Terutama apabila barang bawaan tidak terlalu besar. Jika membawa koper besar mungkin akan sulit karena tiap masuk subway station terdapat x-ray untuk tas dan ukuran mesinnya tidak terlalu besar. Koperku yang berukuran 24″ untungnya masih muat melewati mesin x-ray di stasiun.

Seperti saat berangkat, harga Airport Express dari Dongzhimen station ke airport adalah CNY25 atau sekitar Rp 50.000,-. Disini aku menggunakan lagi Yikatong (smart card) yang kubeli di awal trip (baca: Beijing Trip Part 1 post).

Sedikit trouble saat hendak refund Yikatong di loket Airport Express di airport Beijing Capital. Setelah mengecek kartu, petugasnya bilang kartunya tidak bisa di-refund! Lagi-lagi kendala bahasa, nggak tahu alasannya apa. Tapi kalo dari translate-an di HP petugasnya sih (dan translate-an Inggris-nya ajaib juga!) intinya ada bus trip yang gak komplit. Padahal saya selalu tap in dan tap out selama naik bus! Naik bus pun cuma 3x, sisanya naik subway. Sudah kepalang males komplain karena kesusahan bahasa, akhirnya merelakan Yikatong-nya nggak bisa di-refund huhu. Padahal isinya masih ada sekitar CNY60 atau Rp 120.000,-. Ya sudahlah, anggap saja kartunya jadi souvenir dari Beijing.

Ruang tunggu airport Beijing Capital
See you again, China!

Next time, pengen ke China lagi tapi ke kota lain! Banyak bucket list-ku di China selain The Great Wall, seperti si Zhangjiajie Glass Bridge atau Zhangye Danxia Rainbow Mountain.

Bucket list! (photos from architecturaldigest.com & awakeningstate.com)

So far, Beijing menyenangkan sih dan nggak se-‘ngeri’ yang orang-orang ceritakan tentang kota di China. Mungkin karena kota besar. Kendala disana untukku cuma bahasa, yang berujung ke susah order makanan. Jadinya makan McD terus atau makanan mini market terus! Untuk toilet yang terkenal jorok, di Beijing nggak terlalu parah. Aku pun nggak ‘beser’ jadi jarang ke toilet.

Yang paling impressive tentang Beijing? Sarana transportasi-nya! Oke banget. Nggak nyangka, aku bahkan merasa lebih mudah naik kereta dan bus di Beijing daripada Tokyo ataupun Seoul.

Hope to see you again, China!

RESUME ITINERARY BUDGET DAY 4

  1. Perhitungan di atas untuk 1 orang (1 pax)
  2. CNY adalah hitungan dalam Yuan, dan IDR untuk perkiraan dalam Rupiah (dengan asumsi 1 Yuan = Rp 2000,-)
  3. Trip di atas dilakukan pada bulan November 2017
  4. Belum mencakup tiket pesawat, hotel, budget belanja, dan jajan sampingan
  5. Karena menggunakan Yikatong (Smart Card) untuk bus dan subway, harga tiket masing-masing perjalanan tidak tercantum. Saya menggunakan Yikatong dengan isi 500.000 cukup untuk 5 hari di Beijing termasuk Airport Express PP

6 thoughts on “Beijing Trip Part 3: Panda & Forbidden City (+ Itinerary & Budget)

  1. Jen, aku nekat ke beijing juga nih gara-gara liat postingan kamu. *supernekat, nebok celengan
    Ada saran gak visanya bikin berapa lama sebelum berangkat? sama dana mengendap di tabungan apakah berpengaruh banget jumlahnya untuk kemungkinan dapat visa?

    1. Waaaah, so proud!! Hmm visanya lumayan cepet sih jadinya sekitar 1 mingguan. Aku bikin sekitar 1 bulan sebelum trip. Visa China gak minta rekening koran kok buat syaratnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *